TEHERAN – Ketegangan Timur Tengah kembali memanas. AS dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke sejumlah target strategis di Iran dalam operasi militer bertajuk Operation Epic Fury, Sabtu (28/2/2026) dini hari waktu setempat.
Serangan dimulai sekitar pukul 02.15 waktu Teheran. Jet tempur dan drone bersenjata dilaporkan menghantam puluhan titik yang diklaim sebagai fasilitas militer, pusat komando, dan gudang logistik Iran. Ledakan terdengar di beberapa wilayah strategis, termasuk area sekitar ibu kota.
Pemerintah Amerika Serikat dan Israel menyatakan operasi tersebut bertujuan melumpuhkan ancaman yang dianggap membahayakan keamanan kawasan. Pihak Israel menyebut langkah itu sebagai tindakan preventif terhadap potensi serangan dari Iran.
Iran langsung merespons. Beberapa jam setelah gelombang pertama serangan, Teheran mengonfirmasi peluncuran rudal balasan ke arah wilayah Israel dan sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Pemerintah Iran menyebut serangan tersebut sebagai “agresi terbuka” dan pelanggaran kedaulatan negara.
Sumber militer menyebut sedikitnya 40 titik menjadi sasaran dalam operasi tersebut. Sistem pertahanan udara Iran dikabarkan sempat mencegat sebagian proyektil, namun sejumlah fasilitas dilaporkan mengalami kerusakan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban jiwa. Namun sejumlah sumber menyebut terdapat korban luka dan kerusakan infrastruktur signifikan.
Dampak serangan langsung terasa di pasar global. Harga minyak mentah melonjak tajam karena kekhawatiran gangguan distribusi energi dari kawasan Timur Tengah.
Komunitas internasional menyerukan de-eskalasi dan meminta semua pihak menahan diri guna mencegah konflik meluas menjadi perang terbuka.
Situasi masih berkembang dan berada dalam pemantauan ketat.



