BATAM – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras terkait akses di Selat Hormuz.
Melalui platform Truth Social pada Sabtu malam (21/3/2026), Trump meminta Teheran segera membuka kembali akses penuh di selat tersebut. Ia memberikan tenggat waktu hingga Senin malam (23/3/2026).
Trump menyatakan, jika permintaan itu tidak dipenuhi, Amerika Serikat akan mengambil langkah militer dengan menargetkan infrastruktur energi Iran, dimulai dari pembangkit listrik terbesar di negara itu.
“Jika akses tidak dipulihkan, kami akan menghancurkan infrastruktur energi Iran, dimulai dari pembangkit listrik terbesar mereka,” tulis Trump.
https://akselerasinews.web.id/iran-tutup-selat-hormuz-harga-minyak-dunia-tembus-usd-82/
Pernyataan tersebut segera direspons oleh militer Iran melalui Markas Pusat Khatam al-Anbiya. Dalam keterangannya, pihak Iran menyatakan siap melakukan serangan balasan apabila ancaman tersebut direalisasikan.
Iran juga memperingatkan akan menargetkan fasilitas strategis milik Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan Timur Tengah. Target tersebut mencakup infrastruktur energi, sistem teknologi informasi, serta fasilitas desalinasi air laut.
“Jika pembangkit listrik kami disentuh, maka seluruh fasilitas energi dan teknologi milik AS serta sekutunya tidak akan aman,” demikian pernyataan militer Iran.
Ketegangan ini kembali menyoroti pentingnya Selat Hormuz sebagai jalur utama pasokan energi global. Setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia dan berdampak pada stabilitas ekonomi internasional.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda penurunan eskalasi dari kedua pihak. Perkembangan situasi masih terus dipantau oleh komunitas internasional.



