Anatomi Khidmat HMI Antara Sakralitas dan Romantisme Sejarah

Oleh : Abdul Salam Ahmad

BATAM – Fajar 5 Februari 2026 menyingsing dengan membawa beban sejarah yang kian berat di pundak Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di usia ke-79, organisasi hijau-hitam ini berdiri di hadapan cermin zaman untuk meneguhkan narasi pengabdian. Namun, sebuah anatomi khidmat yang jujur justru menghadirkan kegelisahan yang tak bisa lagi diredam: apakah pengabdian ini sungguh menjadi manifestasi kesetiaan pada rakyat, atau sekadar retorika usang untuk menyamarkan keterasingan dari realitas sosial yang kian koyak?

Secara filosofis, khidmat merupakan bentuk kepatuhan total pada nilai-nilai kebenaran dan keberpihakan. Namun dalam praktik organisasi yang telah menua oleh sejarah, nilai sering kali mengalami penyempitan makna. Khidmat direduksi menjadi slogan, simbol, dan ritus tahunan, sementara laku keberpihakan semakin kabur. Di titik inilah pengabdian berisiko kehilangan daya transformatifnya.

Anatomi khidmat hari ini memperlihatkan kecenderungan HMI menyerupai korporasi pemikiran: sibuk mereproduksi elite, tetapi minim melahirkan solusi konkret bagi persoalan bangsa. Fenomena ini sejalan dengan pemikiran Pierre Bourdieu tentang reproduksi elite, di mana institusi intelektual kerap tanpa sadar berfungsi sebagai mekanisme pelanggeng struktur kekuasaan. Alih-alih menjadi ruang emansipasi, organisasi justru memproduksi aktor-aktor yang piawai beradaptasi dengan sistem dominan, bukan menantangnya.

Tantangan Indonesia tahun 2026 menuntut lebih dari sekadar “pasukan hijau-hitam” yang memenuhi jalanan dengan orasi yang berulang. Ketimpangan sosial yang mengeras, krisis iklim yang kian nyata, kedaulatan data yang rapuh, serta kerusakan etika ruang digital menuntut kehadiran intelektual yang berani membedah struktur ketidakadilan tanpa takut kehilangan akses pada lingkar kekuasaan. Jika pengabdian hanya dimaknai sebagai jalur mobilitas politik, maka khidmat telah kehilangan makna etiknya.

Dalam konteks ini, urat nadi perjuangan HMI sesungguhnya terletak pada independensi. Namun pertanyaan krusialnya: mampukah organisasi menjalankan pengabdian secara murni ketika relasi dengan kekuasaan semakin cair dan kompromistis? Pengabdian yang terikat pada kepentingan politik praktis hanya akan melahirkan kepatuhan struktural, bukan keberanian moral.

Peran intelektual dalam organisasi mahasiswa seharusnya tidak berhenti pada produksi wacana. Antonio Gramsci menyebut pentingnya intelektual organik—mereka yang tidak hanya berpikir tentang rakyat, tetapi hidup dan bergerak bersama realitas sosialnya. Tanpa fungsi ini, intelektual mudah berubah menjadi juru bahasa kekuasaan, bukan pengganggu kenyamanan struktur yang timpang.

Ketidakmampuan HMI keluar dari bayang-bayang elite menjelaskan mengapa suaranya kian sayup di tengah penderitaan rakyat. Pengabdian sejati menuntut keberanian organisasi untuk mengambil posisi berjarak, bahkan berseberangan, dengan kekuasaan ketika keadilan sosial dikorbankan. Tanpa sikap ini, HMI berisiko menjelma menjadi ornamen demokrasi: tampak sakral secara simbolik, tetapi tumpul secara fungsi kritis.

Usia 79 tahun seharusnya menjadi titik balik, bukan panggung nostalgia. HMI tidak cukup hanya bangga sebagai penjaga gawang sejarah. Tantangan zaman menuntut organisasi untuk menciptakan solusi yang relevan terhadap krisis iklim, ketimpangan ekonomi, kedaulatan digital, serta disintegrasi moral yang menghantam generasi muda. Tanpa keberanian membaca dan merespons persoalan ini, khidmat akan terus bergaung sebagai kata yang indah, tetapi hampa makna.

Realisasi anatomi khidmat harus diturunkan dari awang-awang retorika menuju bumi pengabdian yang nyata. HMI dihadapkan pada pilihan yang semakin terang: tetap menjadi “keramat” yang dipuja namun tak berdaya, atau kembali menjadi mesin perubahan yang ditakuti karena integritasnya yang tidak bisa dibeli oleh kepentingan apa pun.

Pada akhirnya, adagium “Bahagia HMI, Jayalah Indonesia” tidak boleh luruh menjadi artefak lisan tanpa konsekuensi. Hannah Arendt pernah mengingatkan bahwa kejahatan terbesar sering lahir bukan dari niat jahat, melainkan dari ketaatan yang kehilangan daya kritis. Dalam konteks ini, khidmat tanpa keberanian moral justru berpotensi melanggengkan ketidakadilan yang hendak dilawannya.

Di usia ke-79 ini, HMI perlu melakukan dekonstruksi terhadap eksistensinya sendiri. Khidmat sejati tidak ditemukan dalam ruang negosiasi yang eksklusif, melainkan dalam kesediaan untuk pulang dan melarut bersama nasib rakyat. Hanya dengan cara itulah HMI akan tetap menjadi mercusuar—bukan sekadar monumen yang menunggu waktu untuk dilupakan oleh zaman.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *