BATAM – Krisis air bersih Jodoh Nagoya Batam kembali menjadi sorotan. Pasokan air di kawasan pusat bisnis Kota Batam ini mati total pada siang hari dan hanya mengalir kecil saat dini hari hingga Sabtu (17/1/2026). Kondisi tersebut berdampak langsung pada aktivitas warga dan pelaku usaha.
Gangguan air paling terasa di sejumlah kawasan permukiman, seperti Kampung Utama, Pelita, dan Kompleks Nagoya Business Centre. Warga harus menunggu hingga tengah malam untuk menampung air karena pada jam normal keran tidak mengalir. Jika terlambat menampung air dini hari, kebutuhan dasar tidak terpenuhi keesokan harinya.
Krisis air bersih ini juga mengganggu aktivitas ekonomi. Sejumlah ruko, usaha kuliner, dan hotel skala kecil di kawasan Jodoh mengalami hambatan operasional. Dampak paling besar dirasakan pelaku usaha yang tidak memiliki tangki penampungan air berkapasitas besar.
Gangguan distribusi air tidak hanya terjadi di Nagoya dan Jodoh. Warga di Tanjung Uma, Bengkong, dan sebagian Batam Center juga melaporkan tekanan air yang menurun. Kondisi ini paling terasa pada jam-jam penggunaan puncak.
Hingga kini, penyebab krisis air bersih Nagoya Jodoh Batam belum diketahui secara pasti. Warga menyebut air hanya mengalir kecil pada dini hari. Pada siang hingga malam hari, aliran air tidak tersedia sama sekali. Situasi ini menyulitkan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Keterbatasan pasokan air mendorong warga dan pelaku usaha mencari alternatif. Sebagian warga menampung air pada jam tertentu, sementara yang lain membeli air dari pihak ketiga. Kondisi ini meningkatkan beban pengeluaran harian.
Warga berharap pihak terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi air di pusat Kota Batam. Mereka menilai ketersediaan air bersih menjadi kebutuhan mendasar, terutama di kawasan Nagoya dan Jodoh yang berperan sebagai pusat aktivitas ekonomi.
Krisis Air Bersih Landa Jodoh–Nagoya Batam



