Makna Isra Mi’raj Menurut H. Abdurrahman A. Hunalapa

Batam – Makna Isra Mi’raj menjadi refleksi penting bagi umat Islam dalam menghadapi kehidupan modern. H. Abdurrahman A. Hunalapa menilai Isra Mi’raj tidak hanya sebagai peristiwa sejarah keagamaan, tetapi juga sebagai momentum refleksi spiritual yang relevan dengan tantangan kehidupan modern. Ia menyampaikan pandangan tersebut dalam wawancara bersama wartawan AkselerasiNews, Jumat, 16/1/2026.

Menurutnya, peristiwa Isra Mi’raj mengandung pesan mendalam tentang optimisme dan keteguhan iman, terutama ketika manusia berada dalam kondisi terberat hidupnya. Ia menjelaskan bahwa Isra Mi’raj terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW mengalami kesedihan mendalam atau dikenal sebagai Amul Huzni, namun justru disaat itulah Allah SWT memperlihatkan kebesaran-Nya.

“Isra Mi’raj mengajarkan bahwa di balik setiap kesulitan hidup, selalu ada jalan cahaya dari Allah. Selama manusia mampu menjaga iman dan keteguhan hati, derajat kehidupan bisa ditinggikan,” ujar H. Abdurrahman.

Ia menambahkan, perjalanan Isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa mencerminkan dimensi horizontal kehidupan manusia, yakni hubungan sosial dan tanggungjawa kemanusiaan. Sementara Mi’raj, perjalanan menuju Sidratul Muntaha, merepresentasikan dimensi vertikal, yaitu hubungan spiritual antara hamba dan sang Pencipta.

Makna Isra Mi’raj dan Keseimbangan Kehidupan

Keseimbangan antara kesalehan sosial dan kesalehan spiritual inilah yang menjadi inti ajaran Makna Isra Mi’raj. Ibadah tidak hanya berhenti di Sajadah tetapi harus tercermin dalam perilaku dan kontribusi sosial, jelasnya.

Lebih lanjut, H. Abdurrahman menegaskan bahwa perintah salat lima waktu menjadi inti dari makna Isra Mi’raj. Salat, kata dia, adalah sarana bagi umat Islam untuk melakukan Mi’raj spiritual setiap hari, tanpa harus menembus langit sebagaimana Nabi Muhammad SAW.

“Salat bukan sekadar kewajiban formal, tetapi kebutuhan ruhani. Disitulah Manusia menyelaraskan kembali hati dan pikirannya di tengah tekanan kehidupan modern,” ungkapnya.

Menutup wawancara, H. Abdurrahman A. Hunalapa mengajak umat Islam untuk menjadikan peringatan Isra Mi’raj sebagai dorongan memperbaiki kualitas diri dan integritas moral. Ia menilai, nilai iman dan ketulusan tetap menjadi fondasi utama dalam kehidupan.

“Isra Mi’raj mengajarkan bahwa keajaiban dimulai dari iman yang kokoh. Jika nilai itu dibawa ke kehidupan sehari-hari, maka setiap langkah kita akan selalu berorientasi pada ridha Allah,” pungkasnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *